kawanan semut dan kita

Hampir tiap 2 hari sekali, di pagi buta, seorang wanita memintaku menjemurkan pakaian di sebuah loteng dengan pagar dari kayu. Suatu masa saat aku juga melaksanakan pintaan wanita itu, aku melihat sehelai handuk terjemur di tali jemuran. Aku mengambilnya dan memindahkannya ke pagar kayu, lalu melanjutkan dengan menjemur pakaian satu persatu. Siangnya, saat aku yang tengah kegerahan mencuci wajahku, aku mencari handuk dan menemukan handuk yang aku jemur di pagar tadi. Dengan yakin, aku mengusapkan handuk itu ke  wajahku yang langsung kesakitan karena digigiti semut. Dengan segera kubasuh wajahku sekali lagi dan merendam handuk itu ke dalam larutan air dan sabun. Aku membedaki wajahku yang kemerahan akibat gigitan tiada berperasaan itu.

 

Aku mengamati pagar itu, semut-semut tengah berjalan di atasnya. Berjalan lurus berbaris-baris membentuk sebuah banjar. Mereka berjalan teratur, menuju arah yang sama. Tidak ada yang berhenti untuk beristiarahat, atau berinisiatif mencari jalur lain menuju tujuan akhir mereka. Aku mengambil sebatang lidi, mencoba menghalangi laju mereka. Mereka terpencar sebentar namun kemudian merapikan barisan dan berjalan terus, tanpa peduli pada lidiku. Mereka melangkahinya seperti tiada arti lagi. Aku meniup barisan itu. Beberapa semut jatuh berhamburan, entah kemana. Sementara yang lain, yang tangguh atau cukup jauh dari jangkauan tiupanku, segera merapikan barisan dan kembali berjalan rapi, seperti tak pernah terjadi apa-apa. Tidak ada yang meratapi kepergian temannya, atau sekedar menundukkan kepala tanda mengheningkan cipta. Mereka, yang wajahnya kuamati sedemikian dekat, tak menunjukkan kesedihan sama sekali. Mereka terus berjalan, lurus menantang, hingga bayang mentari sudah jauh meninggalkan timur. Dan aku kelelahan, menatap mereka yang pelan-pelan hilang begitu saja. Tanpa kulihat ujung barisannya, tanpa ada angin luluhkan mereka, atau obat serangga apapun.

 

Aku tercenung memangku daguku kepada pagar itu. Di kejauhan, kulihat bintang menggantung lurus bersama cantiknya bulan sabit di langit malam yang kemerahan dan gugusan bintang yang tertelan debu polusi jakarta. Semut berbaris, bulan menggantung diri, manusia berlari. Allah Maha Besar, aku kecil.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s