Posted by: nourygagarin on: June 1, 2012
Setiap kali ada seorang insan sedang berbicara, memberi nasehat pada kebaikan, kemudian mengernyitkan dahi, memicingkan mata, mengerutkan alis, seolah menggali sekuat tenaga, berusaha menemukan ayat-ayat yang pernah ia hafal sebelumnya; aku merasa kalut, berkerut, dan mengerdil. Sepotong jantungku seperti copot lalu melayang meninggalkan jasad.
Posted by: nourygagarin on: May 31, 2012
Alarm ponselku berteriak nyaring. Sekedar pengingat dariku untukku sendiri. Sudah jam 4.30 pagi. Bangun pagi. Setidaknya, subuh-an dulu lah. Kupejamkan mataku sekejap, membukanya lagi. Mematikan alarm itu. Bangkit, ambil wudhu.
—–
Kulirik jam besar di salah satu dinding ballroom ini. Sedetik yang lalu, jarum penunjuknya menggeser jarum panjang menuju 6 dan memposisikan jarum pendek tepat di antara angka 2 dan 3. Tepat pukul 14.30 sudah. Keringat membasahi dahiku. Beberapa menit berselang, acara selesai. Kakiku tak terkontrol, berlari. ‘Mengejar’ dzuhur.
—–
Dosen masih konsentrasi mengajar di depan. Kakiku goyang-goyang. Sudah hampir gelap. Mau izin keluar sebentar, tak enak. Materi sedang seru-serunya dibahas. Tapi belum sholat ashar. Ah, kalau kutinggalkan kelas ini bisa jelek nilai ujianku nanti. Materi ini terlalu sulit untuk kutinggalkan mesti tak lebih lama dari 10 menit. Matahari terbenam sepenuhnya. Lewat sudah.
—–
Huft. Antrian mobil mengular panjang. Menyisakan sedikit sekali aspal yang mampu terlihat. Macet semacet-macetnya. Dadaku berdegup. Tidak terlalu keras degupnya, mungkin ia pun sudah tak terlalu resah untuk meninggalkan perintah-Nya barang satu waktu. Tapi si mata tak mampu berdiam tenang, melirik kesana-kemari. Mencari masjid atau mushola di sudut-sudut sempit gang yang masih bertahan dihimpit ratusan gedung pencakar langit. Kadang ia memandangi gedung-gedung itu, mungkin ada mushola di dalamnya. Kubayangkan nikmatnya sujud. Namun sebentar kemudian, adzan isya berkumandang.
—–
Lelah. Bagusnya, waktu isya jauh lebih panjang dari waktu yang lain. Kujatuhkan tubuh penatku pada kasur empuk. Tak benar-benar kantuk, hanya ingin berbaring. Pakaian sejak pagi tadi masih melekat sempurna di badan. Tak lama, mata terlelap. Hati, sepertinya ia berbisik “Gusti Allah, maafkan kelalaianku hari ini. Berikan aku kekuatan yang lebih di esok hari, untuk tak mengizinkan lalai itu datang lagi.” Namun entah bagaimana, alarmku berbunyi. Sudah pagi.
—–
kubuka jendela pagi dan dosa pun menghampiri,
suara jerit hati kuingkari..
Posted by: nourygagarin on: May 31, 2012
bagaimana seorang lelaki rela berlelah-lelahan mencari nafkah untuk perempuan yang bahkan tidak punya hubungan darah dengannya.
Posted by: nourygagarin on: May 25, 2012
Berdasarkan kontrak gajinya, Noury sebagai Manajer Pemasaran di Kamehameha Tbk ditawari opsi pemberian bonus oleh bosnya:
“Nor, kamu kan kerjanya bagus. mau bonus $40,000 saya kasih sekarang apa saya tambahin jadi $70,000 tapi dikasihnya nanti 10 tahun lagi?”
“Waduh, bagaimana ini?” pikir Noury sambil kebingungan. Ia sangat senang karena mau dikasih bonus. Tapi yang mana ya yang harus diambil? Grab the $40,000 fast? Or save the $70,000 for last?
Beruntunglah Noury punya teman seorang mahasiswa akuntansi bernama Joko yang sedang belajar tentang the time value of money atau nilai waktu uang. Noury minta tolong ke Joko untuk hitung berapa sih nilai si $70,000 yang bakal dikasih oleh bosnya 10 tahun lagi? kalau dibandingin sama $40,000 yang sekarang, gedean yang mana ya?
Sebelum mulai menghitung, diasumsikanlah bahwa suku bunga relevannya 8%. Kenapa 8%? (biasanya sih di soalnya udah ada gitu prosentasenya,, hehehe. bisa juga 9% atau 10% dan lain-lain). Dengan mengabaikan dulu faktor pajak yang akan dikenakan, inilah besarnya si $70,000 yang bakal dikasih 10 tahun lagi kalau dibandingin sama sekarang…..
Dan hasilnya cuma $32,423. Artinya, nilai si $70,000 itu sama dengan $32,423-nya sekarang.
Kalau buat perbandingan mungkin gini, $40,000 itu bisa kita beliin es krim satu galon, yang $70,000 di 10 tahun yang akan datang cuma bisa beli es krim 3/4 galon.
Waduh, bahaya ini. Baiklah, Noury memutuskan untuk mengambil saja yang $40,000 karena setelah minta pendapat temannya yang bernama Faiz, Faiz bilang uang $40,000 mungkin bisa jadi $400,000,000 kalo diambil sekarang dan dipakai buat buka usaha KFC KW2 a.k.a Sabana. Hehehe.
—–
Nah, dari mana perhitungan di atas tadi? Karena yang kita cari itu adalah nilai sekarang (Present Value) dari suatu bentuk uang di masa yang akan datang (Future Value) dengan suku bunga relevan 8% maka kita hitungnya pake rumus Present Value of Single-sum.
Rumusnya:
PV = FV (PVFn,i) atau
dimana:
PV: present value (nilai sekarang)
FV: future value (nilai kemudian/yang akan datang)
PVF: present value factor (faktor-faktornya, n=periode, i=suku bunga)
Posted by: nourygagarin on: May 24, 2012
Matahari masih bersinar dari sela-sela benang cokelat jendela kamarku. Terik. Tidur pasca subuh benar-benar nikmat. Tapi terik itu, berhasil membangunkan mata kantukku untuk beraktivitas, kerja. Kupandangi kaki-kaki kurusku. Lalu tiba-tiba hembusan angin dari kipas membawaku ke sebuah pagi, mungkin jam yang sama, beberapa tahun yang lalu.
——–
“Trap trap trap.”
Derap kaki kami berlari kecil. Napas terengah-engah mengejar ketertinggalan. 4 putaran sudah terlewati dan masih 2 putaran lagi yang harus dihadapi. Sementara kepala sudah pening, perut sudah mual. Tradisi 6 putar di lapangan Velodrome benar-benar tak akan terlupakan.
“Ayo nur, dikit lagi,” wajah memerahnya dengan hidung mancung muncul dari belakangku. Membalapku dengan langkah yang tak lebar pula. Tubuh tegap cenderung bongsornya kelihatan mulai lunglai.
Rrrrrrr. Kutengok belakangku. Kiky, sudah pasrah rupanya. Bekal gula merah dari Ishma sudah tak mampu menjadi dopping. Ia mengubah acara lari pagi ini menjadi jalan santai. Si bocah yang memang jago lari sudah duduk santai sembari berdadah-dadahan, menyemangati kami yang kelelahan.
——-
“Because of you I never stray to far from the side walk…” suara Nona Clarkson dari headset seperti meremas hati kami. Menghayati sepenuh hati, aku dan kawan sepernyanyian menghafal lirik lagu itu. Di pojokan sana ada kawan lesung pipit sedang menggenggam kertas-kertas. Sambil mulutnya berkomat-kamit. Kusambangi, penasaran apa isi kertasnya. Hayyah, lirik lagu juga.
Kami semua, saat itu, entah bagaimana suka mendengarkan lagu. Suka menghafal liriknya. Suka mencari arti lagu itu. Walaupun genrenya beragam. Ada yang geleng-geleng sambil denger SOAD, ada yang tersenyum malu membaca lirik puitis Craig David, dan lain-lain seperti yang tertuang di paragraf sebelumnya. Dan tak jarang, kami beririsan dalam persoalan perlaguan .
——-
“Ki, kok pala lu warna-warni?”
“Iya, ini gua bikin pake kertas karton terus diwarnain pake krayon.”
“Priz, cepetan napa pake jilbabnya. Udah simetris itu.”
“Nur, lu jangan pake kerudungan langsung gitu napa. Bikin mau gua cekek tuh kayak si anak listrik.”
“Ishma, kerudung lu kayak orang mau maen silat dah.”
——
Bel tanda istirahat berbunyi. Sebagai remaja yang sedang bertumbuh, saat istirahat adalah waktunya mengisi energi. Begitu pula dengan kami.
“Yol, makan kantin yuk.”
“Enggak ah, gua nitip baso aja yak.”
Si manis yang kecil menunduk di pojok kelas. Mengeluarkan kantong kresek kesayangannya. Donat, risol dan kawan-kawannya menyembul dari kantong kresek itu.
“Gua ngemil aja ah, gak kuat gigi gua.”
Dua orang itu, cenderung sulit untuk makan makanan kantin. Oh iya, ada satu lagi. Nona romantis juga tidak suka kantin. Tak tahu mengapa.
——-
Lebih dari 4 tahun sejak kami tidak sama-sama duduk di kelas. Suka tidak suka, kami tumbuh. Mekar mendewasa. Udara yang berputar di sekitar kami tidak lagi sepenuhnya sama.
Ada yang sedang bermain dengan putra kesayangannya yang menggemaskan, ada yang sedang berbahagia dengan guncangan dedek bayinya, ada yang sedang menunggu 2 garis di test pack, ada yang sedang deg-degan takut calon suaminya yang bule itu salah nyebut pas ijab kabul, ada yang sedang menunggu lamaran, ada yang sedang sibuk mikirin dismantle sampe gak kepikiran kuliah, ada yang mengagumi kecantikannya sendiri sambil mengetik postingan ini, dan ada satu lagi sahabat kecil yang santai-santai di pondok gede sana.
I love you all. Aku mencintai kalian. Dan berharap kalian pun begitu. Semoga kasih sayang ini diberkahi ya!! Selamat berbahagia.
Posted by: nourygagarin on: May 4, 2012
mengeja aksara adalah membuka lebar jendela dunia
mencurahkan kasih sayang seorang ibu pada anaknya
mengamalkan cita-cita luhur seorang guru
memberi sesuap nasi pada mereka yang kelaparan
menenangkan batin para pesakitan
menutup mata manusia dalam kebahagiaan
Posted by: nourygagarin on: May 3, 2012
selalu mencintaimu adalah
menenangkan diri dan mengenal diriku sendiri
selalu mencintaimu adalah
rajin berdoa, cinta bersedekah
selalu mencintaimu adalah
makan teratur dan menjaga diri lebih baik
selalu mencintaimu adalah
bekerja lebih gigih, belajar lebih giat
selalu mencintaimu adalah
mencintai ayah ibu dan teman-temanku
selalu mencintaimu adalah
tersenyum lebih manis, tertawa lebih keras, menyanyi lebih riang
selalu mencintaimu adalah
selalu bahagia tak peduli betapa banyaknya alasan untuk menangis
Posted by: nourygagarin on: April 23, 2012
seandainya saja
setiap telapak tangan
yang saling bertepuk bergemuruh
memberikan setelapak berlian pula
seandainya saja
setiap decak kagum
yang tertutur dari tiap mulut
memberikan sesuap nasi pula
seandainya saja
setiap senyum cemerlang penuh simpati
yang meluncur dari tiap bibir
memberikan sebentuk emas pula
seandainya saja
setiap lembar penilaian A
yang didapat berlembar-lembar paper itu
memberikan berlembar-lembar uang pula
seandainya saja
setiap hari dalam hidupku
setiap liabilitas dalam keseharianku
dapat kubayar dengan semua itu
seandainya saja
Baliklah kotor hati kami menjadi sebersih hati bayi
Baliklah lisan kasar kami menjadi selembut lisan sahabat-sahabat Rasul-Mu
Baliklah buruk akhlak kami menjadi seindah akhlak orang-orang yang Kau rindukan
Sesungguhnya kami pun merindukan rindu-Mu, ya Allah..
Baliklah kesukaan kami pada yang Kau benci, menjadi kecintaan pada yang Kau cinta
Ya Ghofur, ampunilah kami, rahmatilah kami, cintailah kami
Sesungguhnya kami pun ingin cinta yang dicintai oleh-Mu, ya Allah..
Tutupilah aib-aib kami, jadikan kami ini kecil di mata kami dan besar di mata orang lain
Sungguh manusia tampak mulia bukan karena kebaikannya,
melainkan karena Engkau menutupi segala aib-aibnya
Ya Malik, baliklah air mata kesedihan kami karena urusan duniawi,
menjadi air mata kesedihan karena dosa-dosa kami kepada-Mu
ampunilah dosa kami, kabulkanlah doa kami,
walau ibadah kami pun tak seberat tetes air mata kami
Posted by: nourygagarin on: March 28, 2012
Suatu hari, di Pecenongan.
“Pisang gorengnya, Pak.”
“Tidak, Dek. Terima kasih,” kataku sambil tersenyum pada gadis kecil yang juga tersenyum itu.
Dia mengangguk kecil sambil tersenyum. Namun tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Di samping kelompok kecil kami.
Temanku, -seorang perempuan- sepertinya merasa iba dan mengeluarkan selembar uang seribuan dari sakunya.
“Tidak, Bu. Terima kasih,” si gadis kecil mengulang perkataanku padanya di awal tadi, sambil terus tersenyum.
Temanku itu, mengganti uang seribunya dengan selembar 2 ribuan dan memberikannya pada si gadis kecil.
“Tidak, Bu. Tidak usah. Terima kasih,” katanya lagi, menolak.
“Enggak apa-apa, Dek. Saya memberikan ini untuk kamu,” kata temanku, agak memaksanya.
Si gadis kecil menolak sambil tetap tersenyum dan berkata, “Tidak, Bu. Pesan ibu saya, saya harus jual pisang goreng ini.”
Cerita simpel, sering terdengar dimana-mana. Cerita simpel itu, agaknya mengingatkan kita pada sesuatu yang saat ini mulai sulit ditemui: etos kemuliaan diri, atau etos harga diri.
Etos kemuliaan diri ini, menjaga harga diri atau kemuliaan diri kita sendiri dengan memiliki dan menerapkan standar atas kualitas diri kita.
Gadis kecil itu mungkin tidak mengerti bahwa tangan di atas memang lebih baik dari tangan di bawah. Apa itu standar atas kualitas diri pun mungkin ia tidak peduli. Tapi tanpa sadar, ketidakinginan untuk menerima uang itu tanpa harus menjual pisang goreng adalah cerminan dari etos kemuliaan diri si gadis kecil. Ia menjaga kemuliaan dirinya dengan memegang standar berupa: keharusan menjual pisang goreng itu, baru kemudian menikmati uang hasil dari penjualannya.
Kalau ada yang bilang sangat sulit membuat diri kita dimuliakan orang lain, namun sebenarnya menjaga etos kemuliaan diri dari diri kita sendiri itu lebih sulit.
Banyak hal yang mampu dilakukan oleh diri kita untuk menghancurkan kemuliaan itu, di antaranya adalah dengan mengukur-ukur bahwa pengorbanan yang telah kita lakukan jauh lebih besar dan menganggap remeh apa-apa yang dilakukan orang lain. Contoh kecilnya, mungkin selama ini kita mengganggap bahwa apa yang kita lakukan untuk orang tua sudah cukup banyak untuk membayar habis apa yang mereka lakukan namun nyatanya itu tidak cukup, Kawan. Mau tahu kenapa? Karena saat orang tua mencurahkan segalanya untuk mengurus dan merawat anaknya, yang mereka pikirkan adalah bagaimana caranya agar anak ini kelak menjadi anak yang sehat, cerdas, sukses dunia akhirat. Namun ketika tiba waktunya kita yang mengurus orang tua, apa yang dipikirkan? “Kapan ini akan berakhir?” Maka kita tidak pernah layak merasa telah membayar habis jasa mereka.
Kemudian, hal lain yang dapat menghancurkan kemuliaan diri adalah sifat permisif terhadap kekurangan dirinya. Misalnya saja, kita sangat permisif pada diri kita sendiri untuk malas bekerja dengan alasan mood sedang tidak baik, atau sedang suntuk. Padahal mood itu diciptakan, bukan datang dengan sendirinya.
Yang terakhir, hal yang dapat menghancurkan kemuliaan diri adalah dengan terlalu banyak melakukan hal remeh temeh yang dapat mengurangi produktivitas diri kita sendiri. Mau belajar tapi terlalu banyak melamunnya, kerja terlalu banyak ngobrolnya, dan lain sebagainya.
Menjaga kemuliaan diri mungkin adalah sebuah pilihan, namun pilihan yang baik nature-nya akan menuntun diri pada hasil yang baik pula
Disarikan dari kajian Rabu pagi
oleh Direktur Pelaksana BAZNAS,
Bpk Teten Kustiawan